Home / Regional / All News / Sidang Korupsi RTH, Para Saksi Saling Bantah soal Aliran Duit

Sidang Korupsi RTH, Para Saksi Saling Bantah soal Aliran Duit

Bandung, matakota.com — Drama yang tersaji di persidangan kasus rasuah RTH Kota Bandung TA 2012-2013, semakin menarik. Bak menguak tabir gelap, pada persidangan Rabu kemarin (16/09/2020), saksi Jahidin (61) membantah keras  keterangan saksi sebelumnya, Dodo, Agus Setiawan dan Deden Juhara.

Sebagaimana diketahui, ketiganya menyebut Jahidin datang ke rumah Kadar Slamet mengendarai mobil seorang diri dan menerima sejumlah uang dalam karung putih berukuran 25 kilogram. Terungkap, ternyata Jahidin tidak bisa mengendarai mobil sebagaimana dituduhkan para saksi di atas.

“Saya tidak bisa mengendarai mobil, logikanya mana mungkin saya datang ke rumah Pak Kadar Slamet mengendarai mobil,” ujarnya di depan majelis hakim yang diketuai T Benny Eko Supriadi.

Dijelaskan pegawai terdakwa Tomtom Dabbul Qomar itu, dia memang pernah ke rumah terdakwa Kadar Slamet yang berlokasi di Jalan Cilengkrang Cibiru Kota Bandung. “Iya pernah tiga kali ke rumah Pak Kadar pakai motor. Saya kan gak bisa nyetir mobil,” ungkapnya, di PN Tipikor Bandung Jalan LL RE Martadinata.

Diceritakan, saat itu dirinya disuruh Tomtom ke rumah Kadar Slamet dan menerima amplop putih yang tidak ia ketahui isinya dari orang kepercayaan Kadar Slamet yang bernama Dedi Setiadi (almarhum, red).

“Kalau yang kedua dan ketiga, saya hanya disuruh mengantarkan surat ke rumah Pak Kadar dan suratnya diterima oleh Dedi Setiadi,” beber Jahidin.

Kesaksian Jahidin bertolak-belakang dengan kesaksian Deden Juhara pada persidangan sebelumnya (26/8/2020). Saat itu Deden mengaku sempat disuruh Kadar Slamet untuk menghitung uang pencairan RTH bersama Dodo.

“Uang lalu dibagi, masing-masing untuk Tomtom Rp 2,5 miliar dan untuk Herry Nurhayat Rp 1,2 miliar,” ujar Deden.

Menurutnya, saat itu uang ditaruh dalam empat karung putih ukuran 25 kilogram. Deden mengaku hanya menghitung uang, sedangkan yang mengangkut dan memasukan karung berisi uang ke dalam mobil Herry Nurhayat dan Jahidin (utusan Tomtom) adalah Agus Setiawan.

“Saya tahu yang mengangkut uang itu Agus Setiawan, karena waktu diangkut sempat kena pintu. Katanya uang itu untuk Pak Tomtom dan Herry,” ungkap Deden.

Dilanjutkan, kedua kalinya dia menghitung uang hasil pencairan proyek RTH terjadi pada Desember 2012. Saat itu, sebanyak Rp 600 juta diberikan ke Tomtom dan Rp 1,7 miliar ke Herry Nurhayat. Pada kesempatan yang sama, Tomtom dan Herry kompak membantah kesaksian Deden tersebut.

“Jahidin itu penjaga rumah kos mertua saya. Seumur-umur Jahidin itu tidak bisa menyetir mobil. Keterangan saksi ini (Deden Juhara) semuanya bohong,”  tandas Tomtom, kala itu.

Dihubungi lewat telepon selulernya, penasehat hukum Tarjo Sumantri SH, menyatakan bahwa kesaksian Jahidin merupakan jawaban atas tuduhan terhadap kliennya Tomtom Dabbul Qomar.

“Fakta persidangan sudah terang benderang, tidak ada satu pun bukti bahwa klien saya menerima uang dari hasil kejahatan RTH,” ujar Tarjo.

Terkait karungan uang yang dituduhkan saksi untuk kliennya, Tarjo menyebut hanya halusinasi oknum berkepentingan untuk menyudutkan kliennya.

“Halu itu! Mana mungkin orang (Jahidin, red) gak bisa nyupir, dikatakan bawa mobil sendirian ke rumah Kadar Slamet,” cetus Tarjo.

Dia berkeyakinan bahwa kesaksian Jahidin akan dipertimbangkan oleh majelis hakim untuk memberikan keputusan hukum yang objektif dan berkeadilan terhadap kliennya.

Sidang rasuah KPK akan dilanjutkan pada Senin (21/9/2020) dan Rabu (23/9/2020). Rencananya, Jaksa KPK akan menghadirkan tiga saksi ahli dan saksi a de charge. Sedangkan pada agenda pemeriksaan saksi mahkota, Jaksa KPK akan menghadirkan kembali para saksi mantan Anggota DPRD 2004-2009 yang sudah diperiksa pada sidang hari Senin lalu (14/9/2020). (DRY)

About andry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*