Home / Regional / All News / Mengelola Apartemen Gateway, Managemen PT MSKP Amburadul

Mengelola Apartemen Gateway, Managemen PT MSKP Amburadul

photostudio_1507967262609BANDUNG, matakota.com — Pemilik atau penghuni Apartemen Gateway Cicadas, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Jawa Barat Neneng Yeni S. SH merasa geram lantaran pihak PT. Mitra Sukses Kelola Property (MSKP) dianggap tak becus mengelola managemen di apartemen cukup ternama di Kota Bandung itu.
Pasalnya, berdasarkan bukti-bukti kepemilikan yang dikantongi, Neneng secara mutlak merupakan pemilik sah unit apartemen blok Emerald A lantai 6, nomor 10. “Tahun 2013, kira-kira bulan Oktober saya membeli apartemen tersebut. Kemudian saya mengajukan rehab ruangan dan mendapat surat fitting room. Setelah selesai rehab, pada awal tahun 2014 ada serah terima dan keluarlah IPL (Iuran Pengelolaan Lingkungan) atas nama saya, yaitu Neneng Yensi Suryani SH,” jelas Neneng, Jumat (13/10/2017).
Dijelaskan, pada pertengahan 2014 dirinya mendapat undangan untuk pembuatan kartu akses perdana yang diberlakukan di apartemen tersebut. “Saya mengisi formilir, menyerahkan fas foto dan lain sebagainya. Namun, setelah sekian lama ditempati, pada tahun 2016 bulan Februari ada yang mengganti kembali kunci unit saya. Saya pun lapor ke pihak managemen karena masih nama saya,” ungkapnya.
Kemudian, tambah Neneng, dia diberi tanda bukti oleh engenering sesuai perintah managemen untuk memberikan pernyataan bahwa unit tersebut benar telah ada yang mengganti kunci masuk. “Setelah itu diganti lagi oleh saya, sampai kejadian kembali penggantian kunci pada sekitar 30 Agustus 2017,” tuturnya.
Namun pada akhir Agustus 2017, tiba-tiba apartemen milik Neneng diklaim hingga digembok oleh pihak lain bernama Marlin IB. Tak pelak, Neneng merasa unit apartemennya ‘dicolong’ Marlin yang diduga dibantu pihak PT. MSKP selaku pengelola atau developer.
“Saya pun mencoba membuka gembok yang dilakukan Marlin terhadap apartemen milik saya. Saat itu pun keributan antara saya dan Marlin terjadi. Lalu datanglah pihak kepolisian setempat dan developer. Namun persoalan tidak selesai begitu saja,” tutur Neneng.
Padahal Neneng Yeni telah melaporkan kecurangan yang dilaukan PT MSKP kepada pihak Polrestabes Bandung terkait dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan oleh oknum di PT. MSKP sebagaima dimaksud dalam pasal 378 KUH-Pidana. “Saat ini sedang dalam proses oleh pihak kepolisian, kita lihat saja,” ujar Neneng geram.
Diduga kuat, PT. MSKP telah memperjualbelikan kembali apartemen yang sudah secara sah milik Neneng yang dibeli secara tunai. “Saya beli apartemen itu seharga Rp.280 juta meskipun di PPJB tertera Rp.214 juta. Dan bukti pembelian serta dokumen lainnya sudah saya kantongi. Kok bisa ada pihak lain mengaku memiliki surat kepemilikan atas apartemen saya. Ini karena dijadikan ajang bisnis pihak developer,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pihak developer yang diwakili Mariasari akan mengembalikan uang milik Neneng atas pembelian apartemen tersebut dengan uang pengembalian Rp.171 juta sampai Rp.179 juta. “Jelas saya tidak mau uang dikembalikan, apalagi nilainya tidak sesuai, bahkan saya sudah mengeluarkan uang lebih untuk rehabilitasi unit. Saya adalah pemilik apartemen itu yang sah,” tuturnya.
Disebutkan, ketika Neneng menyampaikan bahwa apartemen itu sudah sejak lama dibelinya, Marlin IB malah bersikukuh ingin mengambil alih apartemen dengan mengatakan sudah punya suratsehingga dia saat itu juga berani mengganti kuci unit yang ditempati Neneng. “Saat itu, Marlin IB mengatakan, Ibu tidak tahu sekarang berhadapan dengan siapa? Dan dengan sombongnya Marlin IB mengatakan bahwa ibu Neneng sedang berhadapan dengan Arta Graha Grup,” kata Neneng menirukan ucapan Marlin IB.
Kemudian, imbuhnya, Marlin IB membawa dua orang yang mirip dengan suku Ambon dan menununjukan diri Neneng kepada orang itu. “Orang itu maju menghampiri saya, tapi setelah di hadapan saya tidak berbuat apa-apa hanya berdiri saja,” katanya.
Lebih lanjut, Neneng menyayangkan perbuatan PT MSKP yang diduga secara sengaja memperjualbelikan kembali unit apartemen yang telah dibeli dan dihuni oleh Neneng Yeni sejak 2013 sampai terjadi penggembokan di bulan Agustus 2017. Bahkan, di tahun 2015 banyak penguni yang merasa dirugikan seperti yang dialami Neneng. Malah pernah terjadi demo di lokasi Apartemen Gatewey.
“Ada juga beberapa korban yang mengajukan gugatan ke Pengadilan hingga berakhir dengan mengabulkan gugatan penggugat. Maka dari itu, saya berharap pihak kepolisian bisa menindaklanjuti kasus ini agar menjadi pelajaran bagi para pengembang lainnya yang kemungkinan akan meniru kecurangan-kecurangan seperti itu,” pungkasnya. (red)

About andry

One comment

  1. Pemberitaan ini terkesan sgt tdk berimbang & cenderung diskriminatif. Di gali hanya dari satu sumber yakni bu Neneng, hrsnya di gali juga dari sumber lain, spt pihak kepolisian, MSKP & ibu Marlin. Juga hrs di pastikan bukti kepemilikan dari bu Neneng & bu Marlin masing2 dikeluarkan oleh pihak mana & sejauh mana dampak hukumnya. Kesan diskriminatifnya adalah penyebutan suku tertentu. Semoga masukan ini menjadi pertimbangan redaksi dalam pemberitaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*